Malukutime.com, KLATEN – Sebanyak 153 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi di Kabupaten Klaten saat ini. Dari jumlah tersebut, dua dapur SPPG untuk sementara dihentikan operasinya.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (Korwil BGN) Kabupaten Klaten, Yoga Angga Pratama, menjelaskan 153 SPPG tersebut melayani sekitar 300.100 penerima manfaat. Mereka merupakan kelompok sekolah dari tingkat TK/PAUD, SD, SMP, serta SMA/SMK.
Siswa dan pendidik menerima menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, kelompok 3B atau ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita non-PAUD di Klaten juga mulai menerima MBG.
Terkait SPPG yang sementara dihentikan operasionalnya, Yoga menjelaskan ada dua SPPG. Keduanya yakni SPPG Klaten Cawas Barepan dan SPPG Klaten Ceper Kurung.
BGN pusat memberlakukan suspend terhadap SPPG Cawas Klaten Barepan sejak beberapa pekan lalu. Hal itu menyusul dugaan kasus keracunan yang dialami murid di SDIT Sinar Fajar Muhammadiyah Cawas.
Sementara itu, SPPG Klaten Ceper Kurung menyusul diberlakukan suspend oleh BGN lantaran ada dugaan keracunan yang dialami siswa di dua Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah di wilayah Kecamatan Ceper setelah menerima MBG pada Kamis (3/9/2026).
“Saat ini kami baru menunggu turunnya surat suspend dari BGN untuk SPPG Klaten Ceper Kurung,” kata Yoga saat ditemui di SPPG Kurung, Jumat (4/9/2026).
Terkait operasional SPPG yang berada di Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Yoga mengungkapkan saat ini masih dalam tahap evaluasi. Keputusan operasional berada di BGN pusat.
“Untuk SPPG yang Cawas kemarin memang ada gejala sakit perut yang dialami siswa. Alhamdulillah, siswa sudah kembali bersekolah. Tidak ada yang rawat inap. Namun, SPPG masih dilakukan evaluasi sehingga belum bisa beroperasional,” kata Yoga.
Keracunan MBG
Diberitakan sebelumnya, ada 178 murid di SDIT Sinar Fajar Muhammadiyah Cawas yang diduga mengalami keracunan setelah menerima menu MBG, Jumat (14/8/2026). Tidak ada murid yang menjalani rawat inap.
Selain pengobatan, petugas Dinkes bersama Puskesmas mengambil sampel makanan yang sebelumnya dikonsumsi siswa untuk dilakukan uji laboratorium. Sekitar sepekan kemudian, hasil uji laboratorium dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta keluar. Hasilnya, dari beberapa sampel yang diuji, ada dua menu dinyatakan positif Bacillus sp.
Sementara itu, sebanyak 64 murid di dua MI di Kecamatan Ceper, yakni MI Muhammadiyah Srebegan dan MI Muhammadiyah Cetan, mengalami gejala keracunan yang diduga setelah menyantap menu MBG.
Gejala yang muncul yakni mual, pusing, hingga ada yang mengalami muntah. Tidak ada siswa yang menjalani rawat inap. Sebagian besar kembali bersekolah pada keesokan harinya atau Jumat (4/9/2026).
Sampel makanan sudah diambil untuk dilakukan uji laboratorium. Kini, penyebab puluhan murid mengalami gejala keracunan masih menunggu hasil uji.
Kepala MI Muhammadiyah Cetan, Hariyanto, mengatakan sekolah segera menggelar musyawarah dengan wali murid pascakejadian dugaan keracunan tersebut. Musyawarah dilakukan untuk memutuskan melanjutkan kerja sama program MBG atau tidak.
“Dari sekolah sendiri ya sangat sedih. Khawatirnya anak-anak jadi trauma, orang tua trauma,” jelas dia.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, berharap dugaan keracunan tak terulang. Sebagai langkah pencegahan, Hamenang meminta pengawasan terhadap SPPG di Kabupaten Klaten diperkuat.
Dia mendorong keterlibatan jajaran Forkopimcam, mulai dari camat, kapolsek, danramil, serta Puskesmas untuk melakukan pemantauan dan mitigasi terhadap potensi risiko di masing-masing wilayah.
“Kami minta tolong rekan-rekan Forkopimcam didampingi dari Koordinator MBG di kecamatan untuk kemudian sambang ke SPPG yang ada di wilayah. Sehingga ada mitigasi lebih awal ketika ada potensi-potensi risiko,” jelas Hamenang saat ditemui di SPPG Kurung, Jumat (4/9/2026).
Hamenang juga berharap seluruh mitra SPPG di Klaten melakukan evaluasi menyeluruh dan memastikan proses dari awal hingga akhir memenuhi standardisasi.
“Niat program Pak Presiden sangat bagus untuk mencerdaskan anak-anak kita. Jangan sampai kemudian justru menjadi masalah yang membuat trauma anak-anak kita,” kata Hamenang.

Leave a Reply