Cegah Bullying di Sekolah, Disdik Solo Jalankan Berbagai Program

Cegah Bullying di Sekolah, Disdik Solo Jalankan Berbagai Program
Kepala Disdik Solo Dwi Ariyatno. (Daerah/Wahyu Prakoso)

Malukutime.com, SOLO — Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo menjalankan berbagai program untuk mencegah perundungan atau bullying serta penanganan kekerasan di lingkungan sekolah.

Kepala Disdik Solo Dwi Ariyatno mengatakan dinasnya menjalankan berbagai program dengan mengintervensi sekolah untuk memberikan pemahaman agar terhindar dari kebiasaan-kebiasaan negatif dari lingkungan sekitar.

“Hal itu dilakukan karena kami tidak bisa menjamin karakter atau perilaku anak itu selalu dalam kontrol kami. Untuk bisa menjamin proses untuk interaksi di lingkungan sekolah itu pada koridor yang positif itu penanaman dengan berbagai pemahaman,” kata dia kepada Espos di Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Solo, Kamis (30/4/2026) siang.

Menurut dia, sekolah membiasakan perilaku positif terkait interaksi para murid sehingga jangan sampai muncul kebiasaan perundungan hingga tindak kekerasan. Selain itu, Disdik Solo telah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK)

“Tim itu dalam prosesnya dari mulai preventif kemudian dan tindakan pasca-kejadian itu juga dalam prosesnya juga dilakukan oleh Satgas atau tim itu. TPPK ada di tingkat sekolahan,” ujar dia.

Dwi mengatakan di dalam tim tersebut ada kelompok kerja yang bertugas untuk membudayakan sekolah nyaman, aman dan nyaman. Tim tak hanya menangani kasus kekerasan namun melakukan pencegahan.

47% Pelajar SMP di Solo Alami Bullying

Sementara itu, Hasil riset Yayasan Kakak pada 2024 menyebut sebanyak 47 persen pelajar SMP di Kota Solo pernah mengalami bullying atau perundungan. Sebagian besar siswa mengalami hal itu di sekolah dengan bullying verbal atau dengan kata-kata.

Riset dimulai pada April-September 2024 di 36 SMP negeri maupun swasta di Kota Solo. Ada 1.739 pelajar perempuan dan 1.425 pelajar laki laki dengan jumlah total 3.164 siswa yang dilibatkan dalam penelitian itu.

Hasilnya, hampir setengah dari 47 persen jumlah responden mengakui pernah mengalami bullying melalui kata-kata atau verbal, seperti diejek, dihina, direndahkan, diolok-olok, sering dipanggil dengan nama orang tua, dan sering dibanding bandingkan.  

Sedangkan bullying fisik berupa sering didorong-dorong, ditoyor di kepala, ditampar, bahkan dipukul. Adapun tempat yang paling sering terjadi bullying, berdasarkan riset tersebut, adalah di sekolah mencapai 59 persen. Disusul lingkungan permainan 23 persen dan rumah 18 persen.

Dalam hal pelaku bullying, paling banyak responden menyebut teman sendiri sebanyak 78 persen. Lalu 2 persen dilakukan guru, 5 persen orang tua, dan 15 persen sisanya pihak-pihak lainnya.

Leave a Reply